Rabu, 17 Agustus 2011

ASUS Eee Pad Slider

Setelah sebelumnya blog ini pernah mengangkat tentang konsep tablet dengan slider keyboard yang terlihat lebih fungsional daripada tablet-tablet saat ini yang memerlukan keyboard tambahan, kini ternyata sudah ada produk massal yang sebenarnya. ASUS Eee pad Slider namanya.
Dalam tablet 10.1 inci ini, ASUS menggunakan layar IPS yang digunakan juga oleh iPhone 4. Operating System Android 3.1 (Honeycomb) dengan Nvidia Tegra dual core processor. Selain itu, tablet ini pun mengikuti kebanyakan tablet Android saat ini yaitu dual camera1,2 megapixel depan dan 5,1 megapixel dibelakang.

Walaupun dari segi spesifikasi Eee Pad sebetulnya tidak begitu spesial, namun keyboard slider tablet inilah yang sebetulnya menjadi sorotan. Bukan apa-apa, dengan penjualan laptop dan PC secara keseluruhan yang terus menurun, kemunculan tablet dengan keyboard terintegrasi seperti ini akan semakin mempercepat penurunan tersebut dan sekaligus mengkonfirmasi teori bahwa dimasa depan tablet akan segera menggantikan laptop. Pertanyaannya, tablet yang mana? iPad+iOS, atau Android? Oh ya, tablet ini akan dirilis oleh ASUS di eropa dengan harga 479 euro untuk model 16gb dan 599 euro untuk model 32gb. Silahkan convert ke rupiah untuk mengetahui harganya saat nanti rilis di Indonesia. [Designboom]

Ilustrasi Amy Winehouse Dari Tablet Painkillers

Belum sebulan dunia kehilangan salah satu musisi soul muda yang terkenal tidak hanya karena musiknya namun  juga gaya hidupnya yang dipenuhi obat-obatan. Amy Winehouse. Kini seorang seniman sudah membuat interpretasinya akan tragedi yang menimpa penyanyi wanita tersebut dalam bentuk ilustrasi yang bahannya menggambarkan penyebab kematiannya; painkillers atau obat penghilang sakit.

Ilustrasi yang dibuat oleh seniman asal AS Jason Mercier ini bukan ilustrasi pertama dengan bentuk seperti ini. Sebelumnya ia pernah membuat ilustrasi sejenis untuk beberapa artis yang kehidupannya identik dengan obat-obatan seperti Heath Ledger, Michael Jackson, Kelly Osborne dan Courtney Love. Menemukan keindahan dalam kesedihan. Sadis atau artistik? [Complex]

Universiade Sports Centre Shenzen, China

Adalah bukan rahasia lagi bahwa pusat bangunan olagraga dengan gaya arsitektur unik saat ini berada di China. Stadion utama yang digunakan di Olimpiade lalu misalnya, adalah salah satu contoh stadion yang sangat non-ortodoks. Dan kali ini kita akan melihat salah satu stadion yang baru saja selesai dibangun di Shenzen, China untuk World University Games.
Apa yang spesial dari kompleks sport centre ini? Ok. Pertama adalah penempatan dari tiga stadion yang menempatinya adalah sesuatu yang tidak biasa. Studio desain arsitektur GMP Architekten sengaja membuat danau buatan yang mengelilingi ketiga stadion yang bentuknya terlihat seperti mahkota dengan cahaya lampu putih. Hasilnya, dari atas ketiga stadion ini seperti melayang
Sports Centre yang terdiri dari tiga stadion ini masing-masing diperuntukkan untuk olahraga spesifik; stadion utama yang bisa diisi 60 ribu penonton akan digunakan untuk event-event olahraga utama seperti sepakbola. Stadion kedua akan digunakan untuk olahraga indoor dan yang ketiga akan digunakan untuk olahraga air.
Universiade bukanlah stadion pertama yang dirancang oleh GMP Architekten di China. Sebelumnya ia telah membangun venue-venue olahraga terkemuka lainnya seperti World Aquatic Championsips Complex di shanghai. Silahkan klik link sumber untuk melihat rancangan secara lebih detail, atau lihat langsung gambar-gambar yang ada digaleri dibawah. [Deezen]

Konsep iPhone tahun 2020, keren abis…

Desainer Josselin Zaïgouche, menciptakan sebuah konsep zerophone, konsep Apple Black Hole, mungkin iPhone dari tahun 2020. Kita nantikan saja apa yang terjadi tahun-tahun berikutnya, siap-siap saja dikagetkan dengan inovasi-inovasi dari para desainer gadget.

Disini hanya dibahas sekilas saja tentang iPhone 2020, tidak dibahas detail aplikasinya apa saja, terus bahannya seperti apa, yang pastinya hanya gambaran konsepnya saja, okey….lihat yuk. khe..khe..



Wah.....Pak Karno Nonton Sriptise

Pasca memburuknya hubungan Indonesia – Amerika Serikat, serta-merta buruk pula perlakuan pers Negeri Paman Sam terhadap Sang Proklamator. Padahal, dalam lawatan Bung Karno ke Amerika tahun 1956, disebut-sebut sebagai lawatan pertama yang mengesankan. Rakyat Amerika begitu antusias menyambutnya. Pers Amerika begitu ramah menyapa. Bung Karno pun berbesar hati menerimanya.

Sampailah pada suatu acara yang sesungguhnya menyenangkan, tetapi kemudian diplintir menjadi malapetaka. Dalam suatu jamuan bersama staf kedutaan dan sejumlah tamu, Bung Karno sempat bercengkerama dengan anak-anak, ibu-ibu, dan para tamu. Bahkan sempat pula melakukan shalat berjamaah. Semua aktivitas dilakukan dengan begitu lancar dan menggembirakan banyak pihak.

Tibalah pada satu momen yang sungguh mengejutkan, manakala tiba-tiba pembawa acara mengumumkan mata acara selanjutnya berupa tari-tarian erotis. Memang tidak bisa dibilang tari striptease karena sama sekali tidak telanjang bulat. Tapi untuk zaman itu, tari setengah telanjang sungguh “ajaib”, terlebih bagi mata bangsa Indonesia. Jangan-jangan, Bung Karno juga baru pertama kali itu menyaksikan tari-tarian erotis setengah telanjang.
Yang lebih gila adalah, audiens tidak hanya manusia dewasa, tetapi banyak anak-anak di situ! Karuan saja dalam acara itu, Bung Karno harus kerepotan menutupi mata anak-anak sambil tertawa-tawa…. Maksudnya jelas, tari-tarian setengah telanjang itu bukan untuk ditonton anak-anak. Apa boleh buat, apa pun kejadiannya acara itu toh tetap berlangsung dalam ingar-bingar suasana keceriaan. Sejatinya, acara itu tak lebih dari sebuah intermezo.

Siapa sangka kejadian intermezo itu menjadi alat pukul bagi Bung Karno ketika hubungannya dengan Amerika memanas. Pers Amerika Serikat menjadikan Bung Karno sebagai bulan-bulanan. Bahkan suatu hari Bung Karno menerima kiriman majalah remaja terbitan Amerika Serikat. Gilanya… pada cover majalah ditampilkan gadis setengah telanjang, yang tak lain dan tak bukan adalah seorang penari striptease, disandingkan dengan foto Bung Karno yang berseragam militer lengkap.
Sungguh sebuah pencitraan buruk yang keterlaluan. Karena dua foto itu jelas dua foto yang berbeda, ditangkap oleh kamera yang berbeda, dan terjadi pada dua peristiwa yang berbeda. Potongan kedua foto dan menyandingkannya menjadi satu, sungguh sebuah perbuatan diskredit yang keji yang dilakukan pers Amerika terhadap Bung Karno. Ada kesan yang hendak ditampilkan, bahwa Bung Karno berdiri berhadapan dengan penari striptease dalam satu frame. Bisa juga diartikan, seorang penari telanjang sedang mencopoti pakaiannya di hadapan Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno.

Pers selalu saja menjadi alat yang efektif untuk membentuk opini publik. Termasuk dalam mencitrakan Bung Karno sebagai presiden berselera rendah, termasuk satu di antaranya gemar nonton striptease. Ini sungguh tidak benar. Terlebih bahwa kedua foto itu diambil dalam dua peristiwa berbeda. Dan kisah Bung Karno menyaksikan tari-tarian erotis di Kedutaan Besar Indonesia di Washington pun, tidak serendah yang digambarkan pers Amerika tadi.

Bung Karno tentu meradang dengan sikap permusuhan yang ditunjukkan pers Amerika (atas arahan pemerintahnya). Sehingga dalam banyak kesempatan, momen seperti itu bukannya disembunyikan oleh Bung Karno, melainkan malah diangkat ke permukaan. Dan ia pun berstatemen, “Apakah aku harus mencintai Amerika, kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku?”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host